Minggu, 12 Juni 2016

Susi Susanti, sang legend memukau dunia lewat badminton.

Hiruk pikuk, gegap gempita saat menonton pertandingan badminton masa susi susanti, ivanna lie, verawati fajrin, imelda, sarwendah, saat ini gaungnye hampir tidak terdengar. Masih terbayang dipelupuk mate, saat tunggal putri Susi Susanti yang hampir disetiap pertandingan tidak terkalahkan, selama beberapa tahun semua piala diborong oleh susi susanti dan puncaknye saat susi memenangkan olimpiade pertama untuk badminton, aku yakin hampir seluruh masyarakat indonesia peminat olahraga badminton maupun yang dadakan menonton terharu saat kemenangan diraih dan bendera merah putih berkibar bersama bendera negara lain, jujur air mata menitik melihat moment bersejarah itu. Susi dengan wajah seperti biasanye, tak mampu  menahan air mata gembira telah mengharumkan nama bangsa indonesia.
Fhoto Susi Susanti sedang bereaksi dilapangan, memukau dunia.
Sumber: https://sejahterabadminton.fileswordpres.com/2009/02/susi.jpg

Hasil terbaik tersebut tidak didapat begitu saje, tapi dengan kerja keras, perjuangan, berlatih dengan jiwa, berlatih dan menerapkannye di arena juang,  melihat berbagai strategi saat dilapangan, dengan pengalaman. Tidak banyak bicara, pantang menyerah. Itulah susi susanti sang legend badminton. Menurut pandanganku ada hal khusus yang dimiliki oleh susi susanti yang sulit ditemukan pada eranya apalagi pemain sekarang, yaitu walau tertinggal beberapa angka atau kalah disalah satu set tapi percayalah dia tidak akan kalah, set berikutnye die bagai halilintar menghantam lawan, sampai-sampai kami yang menonton pertandingan itu satu rumah ribut, meneriakkan awas..., kiri..., keluar.....pokoknye betul-betul seru. Susi dengan ciri khasnye, meliuk, menghantam dan seulas senyum tipis saat bola melalui net dengan manis, memang luar biasa tanpa ekspresi, die betul-betul fokus, lentur. Tidak ada kata kalah sebelum pertandingan usai, melawan dengan dalam dan akhirnye hampir semue event dimenangkan oleh susi susanti, aku yakin seluruh pelosok indonesiapun bergemuruh, apakah mereka menonton langsung melalui tv atau mendengar melalui radio. Wau, benar benar memukau bukan hanya indonesia tapi dunia juga sesak saat nama susi susanti muncul, lawan yang sangat tangguh. Dalam pertandingan pasti ada kalah menang, begitu juga dengan susi susanti, tapi kalahnya terhormat, setelah dia berjuang habis-habisan dilapangan, itupun hanya hitungan jari saat kecepatan mulai menurun akibat berbagai faktor seperti usia, tapi ingat, hal tersebut setelah susi malang melintang didunia badminton dan hampir seluruh kejuaraan dimenangkan, jadi bukan baru dua atau tiga kali bertanding sudah kalah dan tidak diperhitungkan. Itulah perbedaan mendasar antara pemain dulu khususnya susi susanti yang jarang dimiliki oleh pemain sekarang. Walau beberapa tahun yang lalu ada beberapa nama tunggal putri yang menurut hemat aku dapat diandalkan tapi sayang gaungnye mulai hilang, sementara negara lain maju dengan berbagai prestasi kita jalan ditempat malah semakin mundur, walau secercah harapan diganda campuran namun kalau kita berkaca secara umum kita nomor corot. Bagi pemain baru hendaknya mengambil contoh pada perjuangan pendahulu seperti susi susanti dan kawan-kawan yang kehadirannya dinantikan-nantikan saat itu dan dirindukan saat kini.

Minggu, 05 Juni 2016

Mongoka padi ladang

Saat mengunjungi ocik ana, kak isur sedang mongoka padi hasil ladangnye. Kesempatan itu tidak kami sie-siekan, untuk bereksperimen  walau panas sangat menyengat, berikut  fhoto aku, aqira sedang mongoka padi ladang, aji silekan....